Iklan

Nama Allah, Al Badii’ Seakar dengan “BID’AH”?

Al Badii

Al Badii’ (Maha Pencipta) adalah satu nama Allah. Ada di Al Baqarah 117:

“Allah Pencipta langit dan bumi..” [Al Baqarah 117]

Apakah Al Badii’ ini akar katanya sama dgn “BID’AH?”

Coba kita tanyakan pada pakar bahasa Arab seperti Ustad Ahmad Zarkasih, Ustad Abdi Kurnia Djohan, Ustad Syaroni As-Samfuriy, dan Ustad Alawi Nurul Alam. Apa benar begitu?

Bid’ah itu seakar dgn kata Al Badii’ (Maha Pencipta) dan Bada’a (mencipta). Artinya Allah itu juga pembuat Bid’ah. Jadi kalau bilang semua bid’ah sesat atau semua Ahlul Bid’ah (pembuat bid’ah) sesat, dia menghina Allah. Kalau SEMUA pelaku Bid’ah adalah sesat, berarti Allah sesat dong? Na’udzu billah min dzalik! Subhanallah. Maha Suci Allah dari yg seperti itu.

Kullu itu tidak selalu berarti semua: Pada Al Anbiyaa’ ayat 30 juga disebut dgn kata Kulla. Dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Tapi ini ternyata sifatnya umum. Tetap ada perkecualian seperti jin yang dari api dan malaikat dari nur (cahaya):

“… Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup..” [Al Anbiyaa’ 30]

Jawaban:

Ustad Abdi Kurnia Djohan:

Kata بديع itu terambil dari kata kerja بدع (bada’a), yang maknanya membuat sesuatu yg belum pernah dibuat orang lain. Allah disebut sebagai البديع dan menyebut diri-Nya karena DIA menciptakan sesuatu yang belum pernah diciptakan selain diri-Nya. Adapun kata bid’ah (بدعة) memang terbentuk dari kata kerja bada’a di atas. Di dalam Al-Qur’an surat al-Hadid Allah memakai kata bid’ah itu.

Ustad Ahmad Zarkasih:

Asal katanya sama, dari kata bada’a, menjadikan sesuatu yg sebelumnya tidak ada

KH Alawi Nurul Alam:

Ya sama dong. Al-Badi’ itu mnrt Imam Ghazali dlm kitabnya Asmaul Husna adalah ” Dzat yg membuat sesuatu yg baru tanpa henti (inovasi) yg bermanfaat bagi makhluk-Nya “. Hikmah yg bisa diambil dari sifat al-Badi’ bagi manusia adalah agar senantiasa menciptakan sesuatu yg baru (inovasi) tanpa henti dan bermanfaat bagi kehidupan.
Orang Wahabi bilang setiap Bid’ah itu menyesatkan tanpa sadar telah memproklamasikan diri mereka yg terlahir dan dididik dlm keadaaan tsb.

Ustad Sulistiyono Sholahudin Ali:

Sama. Bisa dibaca di Lisanul Arab Ibn Manzhur Bapak. Jilid 8 mulai halaman 6, utk terbitan Dar Shodir Beirut (1990).

Dengan membagi Bid’ah jadi Bid’ah Dunia yang boleh/tidak sesat dan Bid’ah Agama yang sesat saja sudah membuktikan bahwa perkataan “SEMUA BID’AH ITU SESAT” adalah tidak benar. Jika benar, Bid’ah Dunia juga sesat dong? Kan SEMUA BID”AH Sesat?

Para Ulama membagi Bid’ah jadi 2: Bid’ah Hasanah (Dunia/Agama) dan Bid’ah Sayyi’ah (Bid’ah yang buruk). Misalnya zaman Nabi Narkoba dan penipuan online itu tidak ada. Meski ini masalah dunia, tetap saja ini adalah Bid’ah yang buruk. Jadi tak semua Bid’ah Dunia itu baik.

Sebaliknya Bid’ah Agama, ada yang sesat seperti menambah jumlah sholat wajib dari 5 waktu jadi 6 atau rokaat sholat Subuh dari 2 jadi 3 roka’at, ini bid’ah yang terlarang. Karena merubah hukum agama yang sudah qoth’i. Yang sudah jelas dan disepakati jumhur ulama.

Tapi jika Bid’ah agama ini tidak menyangkut hal yang qoth’i seperti Khalifah Umar yang berkata bahwa sholat tawarih berjama’ah di masjid itu “NI’MAL BID’AH HADZIHI” (SEBAIK2 BID’AH ADALAH INI) di Shahih Bukhari, ini adalah Bid’ah Hasanah. Masak sholat bukan masalah agama?

Begitu pula pembukuan Al Qur’an di mana Khalifah Abu Bakar ra dgn Umar bin Khoththob ra sepakat bahwa itu sesuatu bid’ah yang baik meski Nabi tidak melakukannya, itu menunjukkan Bid’ah Hasanah itu ada. Al Qur’an itu adalah Rukun Iman yang ke3. Jadi ini perkara agama. Bukan dunia.

Al Qur’an dengan tanda baca seperti baris dan titik serta nomor itu adalah Bid’ah. Zaman Nabi tidak ada. Jadi jika tidak mau Bid’ah Hasanah, bacaan Al Qur’annya ya tidak ada titik, baris, dan nomor serta di pelepah kurma. Baru seperti di zaman Nabi.

Kitab2 Hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dsb itu juga bid’ah. Di zaman Nabi belum ada. Hadits ini adalah satu sumber agama Islam setelah Al Qur’an. Jadi jika bilang ini bukan masalah agama juga keliru. Jika menganggap semua bid’ah sesat, berarti kitab2 hadits ini sesat dong?

Jadi hati2 dalam menuding semua bid’ah itu sesat. Apalagi menuduh muslim itu sesat. Jika tak benar, label sesat itu akan kembali kepadanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: