Iklan

Hukum Menyembunyikan Ilmu

Masalah kepemimpinan itu dibahas amat banyak di Al Qur’an. Bukan cuma Al Maidah 51-60, tapi banyak. Di hadits juga ada. Masalah kepemimpinan, kriteria calon yg layak diangkat jadi pemimpin ada.
Di Kitab Fiqih ada Bab Jinayah (Hukum Pidana) dan Jihad. Nah Hukum Pidana dan Jihad ini butuh pemimpin. Butuh pemerintah yang mengerti hukum Islam.

Baca lebih lanjut

Iklan

Jika Tak Bisa Bahasa Arab, Berarti Bukan Ulama

Ustad Ismail

Selama orang itu tak paham bahasa Arab, tidak bisa berbahasa Arab, atau tahu bahasa Arab cuma sedikit, berarti dia (termasuk penulis) bukan ulama. Begitu ceramah KH Ismail bin Abdulghoni dari Majelis An Nuur Jatijajar Depok.

Al Qur’an itu diturunkan dalam bahasa Arab. Demikian pula hadits dalam bahasa Arab. Jika kita tidak paham bahasa Arab, bagaimana kita bisa mengerti maksudnya? Kalau rujukannya cuma terjemah yang bisa jadi salah, itu bukan ulama. Jadi tak pantas dia berfatwa wah ini tidak ada dalilnya. Wah ini haditsnya dhoif. Wah ini palsu, dsb. Imam Syafi’ie saja baru berani mengajar setelah gurunya menyuruhnya untuk mengajar.

Baca lebih lanjut

Memuliakan Guru Agar Ilmu Bermanfaat

Habib-Hud

Dari Kitab “Ta’lim Muta’allim” yang penting dipelajari sebelum kita berguru. Di antaranya adalah memuliakan guru agar ilmu kita bermanfaat. Sebab lewat perantaraan / washilah guru lah ilmu tsb bisa sampai ke kita. Ada adab2 memuliakan guru yang harus kita pelajari. Memuliakan guru sama dengan memuliakan ilmu.

Tanpa ilmu, semua amal ditolak oleh Allah. Tanpa ilmu juga aqidah kita mudah goyah. Jadi kita harus memuliakan ilmu. Kita harus memuliakan guru.

Saat ada kotak amal diedarkan, isilah semampunya. Jika berlebih, setiap bulan berilah guru anda amplop dengan uang Rp 50 ribu atau lebih. Sehingga guru anda bisa fokus mengajar dan menuntut ilmu.

MENGAGUNGKAN ILMU DAN AHLI ILMU

Baca lebih lanjut

Beda Orang Awam dengan Orang yang Berilmu

Antara Tekstualis yang sekedar menghafal teks dengan pemahaman yang dangkal dengan orang yang membaca dengan ilmu itu beda.

Tekstualis sekedar menukil kitab. Meski dia hafal judul buku, bab, dan nomor halaman, tapi dia tidak tahu kitabnya asli apa palsu?

Orang yang berilmu memeriksa dulu apakah kitabnya itu asli atau palsu. Caranya bertanya dengan gurunya yang sanad ilmunya sampai ke Nabi dan mendapatkan kitab di tempat yang dipercaya. Contoh banyak kitab ulama yang aslinya menulis kata Rafidhi, sekarang diubah jadi Syi’i. Maknanya beda jauh karena tidak semua Syi’i itu Rafidhi. Kata Rafidhi memang umum dipakai ulama misalnya oleh Imam Syafi’ie dalam kitabnya Diwan Syafi’ie.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: