Iklan

Keuntungan Investasi Arab Saudi Dibanding Penjajah AS dan Cina

pesta-duren
Hutang Indonesia ini sdh rp 4200 trilyun. Sebagian besar dari negara2 penjajah seperti AS, Jepang, dan Cina. Hutang mereka bunga ber bunga. Cicilan hutang dan bunga yang harus dibayar tiap tahun pada tahun 2017 nanti sebesar Rp 500 trilyun, begitu kata Jusuf Kalla saat membuka Tempo Economic Briefing di Jakarta, Kamis (27/10/2016).
 
Jadi jika Arab Saudi, Turki, atau Iran investasi di Indonesia rp 325,Trilyun tanpa bunga, terima saja. Toh makin banyak investor makin bisa kita memilih yg paling untung bagi kita.
Andai teriakan Bid’ah atau Syi’ah makin kenceng, mereka masih bersyahadah ketimbang investor lain yg jelas2 kafir.

Baca lebih lanjut

Iklan

Rakyat Kecil / UKM Dilarang Usaha?

UKM
Dapat pesan begini beberapa waktu lalu. Saat ngobrol dgn saudara yang punya perusahaan Logistik, Ekspedisi, dan Moving (Pindah Rumah dsb), baru saya sadar.

Assalamualaikum Pak Agus,
coba angkat kembali masalah pelarangan Rumah yang digunakan sebagai tempat usaha sama Ahok. rata-rata yang menggunakan rumah sebagai tempat usaha adalah pengusaha UKM. Kalo dilarang mereka tidak bakal memperoleh surat domisili perusahaan yang dikeluarkan Kelurahan/Kecamatan.. Artinya untuk pengajuan kredit pengembangan usaha nga bakal bisa, kecual mereka pindah ke Zona yg ditetapkan sebagai Zona/Daerah Usaha.. Zona/Daerah Usaha tersebut mayoritas berada didaerah yg bukan milik Pribumi/muslim.

Baca lebih lanjut

Ustad Yusuf Mansur dan Bisnis VSI

Yusuf Mansur VSI

Kalau isi ceramahnya sih “Sedekah” terus. Bagus, sebab memang sedekah itu 1 ajaran Islam yg penting untuk diamalkan. Namun kalau ada bisnis juga mulai jadi pertanyaan.
Ah Nabi juga bisnis!
Benar. Tapi bisnis Nabi adalah membawa barang dagangan dari Mekkah ke Syams dan dijual dgn harga yg wajar. Tidak berlebihan. Perdagangan jauh dan berbahaya beliau lakukan untuk mendapat untung yg wajar.
Nah kalau ini bisnisnya apa?
Baca lebih lanjut

Mengapa Fatwa BBM MUI Dihujat Rakyat?

Sering Media Massa seperti TV bisa merusak persaudaraan. Contohnya berita palsu tentang “Fatwa BBM” MUI di TV2 Swasta yg tak benar, hampir mengadu-domba antara MUI dan ummat. Kita harus waspada thd orang2 fasik pembawa berita. Ulama/Ummat Islam jg harus punya media agar tak diadu-domba
http://media-islam.or.id/mi-tv

MUI mengeluarkan fatwa bahwa haram bagi orang yang mampu untuk membeli Premium seharga Rp 4.500/liter yang “disubsidi” pemerintah. Para pemilik mobil pribadi, dihimbau membeli Pertamax yang harganya Rp 9000-an per liter.

Fatwa BBM ini akhirnya mendapat protes keras dari masyarakat.

Harusnya memang MUI mengeluarkan Fatwa yang melarang penguasaan dan monopoli migas Indonesia oleh perusahaan-perusahaan asing sehingga membuat harga minyak melonjak tinggi. Bukan justru membiarkannya. Liberalisasi di pasar minyak sehingga komoditas seperti minyak diperjual belikan di Pasar Komoditas seperti NYMEX, membuat komoditas minyak jadi barang spekulasi para spekulan. Harga minyak pun membubung tinggi.

Dengan biaya perolehan Rp 1.500/liter, harusnya dengan harga jual Rp 4.500/liter pun pemerintah sudah untung.

Namun perusahaan-perusahaan migas asing yang menguasai 90% minyak di Indonesia tidak puas dengan keuntungan sebesar itu. Mereka ingin lebih. Mereka ingin rakyat Indonesia membayar harga minyak sama dengan harga di Pasar Komoditas NYMEX di New York. Tak peduli jika sopir angkot, bis, sepeda motor berpenghasilan sangat rendah.

Jika rakyat Indonesia dipaksa membeli Pertamax seharga Rp 9.000/liter, ini artinya harga bensin di Indonesia jadi US$ 1,04/liter. Ini bukan cuma lebih mahal daripada harga di Arab Saudi (0,16$/ltr), Venezuela (0,023$/ltr), tapi juga lebih mahal daripada harga bensin di Malaysia (0,6), AS (1), Thailand (0,93), Bahkan Cina (0,946)! Silahkan lihat:

http://en.wikipedia.org/wiki/Gasoline_and_diesel_usage_and_pricing

Jadi harusnya para Ulama di Majelis Ulama Indonesia mempertanyakan kenapa dengan penghasilan rakyat yang rendah, kok pemerintah Indonesia mau menerapkan harga bensin yang lebih mahal daripada Malaysia, Cina, bahkan AS?

Saya yakin para ulama di MUI tahu dalil-dalil orang mampu haram mendapat bantuan dari pemerintah. Namun sistem Ekonomi Neoliberalisme yang mementingkan segelintir perusahaan Migas Asing yang didukung pemerintah sudah merubah arti dari kata subsidi untuk mengeruk keuntungan yang berlipat ganda.

MUI jangan mau diperalat untuk membela kebijakan yang keliru. Sebaliknya MUI harus memberikan fatwa haram bagi dikuasainya migas dan kekayaan alam Indonesia oleh pihak asing/kafir.

Riba Berujung Maut: Nasabah Citibank Mati Dibunuh Debt Collector

Citibank Debt Collector

Nasabah CITIBANK TEWAS dihajar Debt Collector:
http://bisnis.vivanews.com/news/read/212608-bi–bank-harus-jalankan-prinsip-kehati-hatian

Harusnya Direktur dan Komisaris Bank turut dipenjara karena merekalah yang membayar para pembunuh tsb. Media Massa harus mengumumkan nama Bank tsb agar para nasabah Bank tidak memakai jasa Bank tsb. Karena tak semua kredit macet itu terjadi akibat nasabah nakal. Bisa saja karena usahanya bangkrut, dsb.

Membengkaknya tagihan dari pinjaman awal Rp 48 juta jadi Rp 100 juta, menunjukkan riba/bunga yang diambil terlampau mencekik leher. Lebih besar rente-nya daripada pinjamannya. Siapa pun juga malas membayar bunga sebesar itu!

Baca lebih lanjut

Empat Langkah Strategi World Bank untuk Memperbudak Negara Berkembang

IMF dan WB itu adalah mesin Neolib. Negara2 berkembang dihutangi Dollar yg sebetulnya dcetak dari kertas tak berharga oleh konco mereka The Fed. Sebagai ganti kertas tak berharga itu, negara2 berkembang menyerahkan kekayaan alamnya, BUMN2nya untuk diprivatisasi, dan perekonomian mereka.

Dari komentar “JackManis” di Kaskus:

“Empat Langkah Strategi” World Bank untuk Memperbudak Negara Berkembang

Profesor Joseph Stiglitz, mantan Ketua Ekonom World Bank, dan mantan Ketua Penasehat Bill Clinton, mengakui di publik “Empat Langkah Strategi” World Bank untuk memperbudak negara demi keuntungan bankir.

Langkah Satu : Privatisasi. Pemimpin nasional akan ditawarkan 10% komisi untuk menjual aset-aset nasional. Uang akan disimpan dengan aman di rekening mereka di Swiss.

Baca lebih lanjut

Bisakah Indonesia Kelola Kekayaan Alamnya Sendiri?

Berbeda dengan para motivator yang menanamkan keyakinan bahwa kita bisa, Antek-antek asing memang mencoba menanamkan pemikiran (mindset) kepada bangsa Indonesia bahwa kita tidak tidak mampu. Oleh karena itu serahkan kekayaan alam kita kepada asing.

Keberadaan BUMN2 seperti ANTAM, Pertamina, Elnusa, dsb sebetulnya sudah membuktikan bahwa kita mampu mengelola kekayaan alam sendiri. Bahkan Malaysia yang SDM dan SDAnya di bawah kita sekarang lebih maju karena mereka mandiri.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: