Iklan

Tim Penterjemah Al Qur’an Departemen Agama

tim-penterjemah

Ini Tim Penterjemah Al Qur’an Depag. Selama 8 tahun mereka menterjemahkan Al Qur’an dan berulang-kali memperbaikinya:

Ketua Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur’an: Prof RHA Soenarjo SH

Anggota:
Prof TM Hasbi Ashshiddiqi
Prof H Bustami A Gani
Prof H Muchtar Jahja
Prof HM Toha Jahya Omar
Dr HA Mukti Ali
Drs Kamal Muchtar
H Gazali Thaib
KHA Musaddad
KH Ali Maksum
Drs Busjairi Madjidi

KH Ali Maksum adalah Rais Aam PBNU periode 1980-1984. KH Anwar Musaddad pernah jadi Rais Aam PBNU dengan Ketua KH Bisri Syamsuri. Mereka ditunjuk Depag pada tahun 1967.

Jangan anggap enteng Terjemah Al Qur’an

Bahasa ibu kita adalah bahasa Indonesia. Bukan Arab. Mau tidak mau, kita harus paham terjemahannya dulu. Bahkan meski bisa bahasa Arab pun tetap saja dia harus menterjemahkannya ke bahasa Indonesia. Benar tidak?

Sebab ternyata banyak juga buku terjemah yang saya lihat salah terjemahannya meski pun penulis bahasa Arabnya lebih ahli dari saya.

Bahkan orang2 yg memandang rendah terjemah Al Qur’an pun mau tak mau saat menyampaikannya ke rakyat Indonesia yg 80% tak bisa bahasa Arab, harus menterjemahkannya juga. Hasil terjemahannya belum tentu lebih baik dari Tim Penterjemah Depag yg dibentuk tahun 1967. Semua ada 11 orang. Beberapa di antaranya Profesor, Doktor, dan KH. Penterjemahan dilakukan selama 8 tahun dgn beberapa kali proses perbaikan. Bahkan tahun 2002 saja saya lihat masih ada revisi.
Jadi terjemahan tim Depag ini lebih akurat daripada oknum Liberal yg berusaha menyesatkan ummat.

80% isi terjemah Al Qur’an terutama yg Muhkamat bisa dipahami orang dgn mudah seperti tegakkan sholat dan bayar zakat. Minimal kerjakan sholat 5 waktu dan bayar zakat. Selain itu ada catatan kaki dan penjelasan dari Tim Depag.

Memang masyarakat tidak bisa jadi mufti dgn terjemah Al Qur’an ini. Tapi minimal mereka bisa paham dan tidak disesatkan oleh orang2 yg sesat. Yg penting tidak sepotong2.

Jadi Tim 11 inilah yg selama 8 tahun menterjemahkan Al Qur’an dan melakukan perbaikan2. Mereka dapat masukan dan kritikan dari ribuan ulama yg membacanya.

Orang Indonesia yg ngaji kitab. kuning pun tentu dengar terjemah kitab tsb dari gurunya. Ini karena kita bukan orang Arab asli.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: