Iklan

Sunni Memahami Agama Melalui Imam

Imam Sunni

Sebetulnya Sunni pun dalam memahami agama harus pakai Imam. Tak bisa menafsirkan sendiri atau ulama biasa. Untuk fiqih harus pakai Imam Mazhab seperti Imam Syafi’i. Aqidah harus pakai Imam Asy’ari dan Maturidi. Tasawuf Imam Al Ghazali dan Baghdadi. Hadist pun harus Imam Bukhari, Imam Muslim dsb. Di bidang disiplin lain seperti Qiro’at (Membaca Al Qur’an), Imam-imam yang jadi rujukan juga ada.

Imam ini adalah ulama2 yg paling top yg jd rujukan. Dari puluhan ribu ulama, bisa kurang dari 10 saja yang mencapai derajad sebagai Imam rujukan. Misalnya untuk Fiqih, di Sunni hanya dikenal 4 Imam Mazhab yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’ie, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Para Imam ini misalnya Imam Syafi’ie menganalisa Al Qur’an yg beliau hafal dan 1 juta hadits serta Ijma Ulama untuk menetapkan satu hukum misalnya cara sholat.

Jadi kalau ada orang zaman sekarang menolak mazhab Syafi:ie tapi Juz Amma belum hafal. Itu pun terjemahan lagi. Kemudian Hadits Bukhari Muslim yg dikuasai kurang dari 20.000. Ini belum layak jadi Mujtahid seperti Imam Syafi’ie. Kalau mau menggali Al Qur’an dan Hadits langsung untuk sholat tanpa pakai Imam Mazhab, kata orang Betawi: Muke lu jauh… 🙂

Kalau tak pakai Imam, gagal paham melulu seperti Wahabi.

Ilmu itu mengalir lewat ulama selaku pewaris Nabi. Ilmu juga lenyap seiring dgn wafatnya ulama.

Punya setumpuk Al Qur’an dan Hadits digital tak membuat anda otomatis jadi ulama.

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Al ‘Ankabut:43)

“Ulama adalah pewaris para Nabi” Begitu sabdanya seperti yang dimuat di HR Abu Dawud.

Hilangnya ilmu bukan karena ilmu itu dicabut oleh Allah. Bukan karena Kitab Al Qur’an dan Hadits menghilang dari peredaran. Tapi hilang dengan wafatnya para Ulama yang menguasai ilmu tersebut.

Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan. (Shahih Muslim No.4828)

Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggut tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak lagi tersisa seorang alim. Dengan demikian orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (Mutafaq’alaih)

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2013/05/27/menghormati-dan-mengikuti-ulama-pewaris-nabi/

Jika ngotot menafsirkan Al Qur’an dan Hadits tanpa melalui Imam Mazhab, ini akhirnya tafsirannya jadi keliru. Membedakan arti Qodamu dengan Qodimu saja orang awam kan tidak paham. Huruf sama tapi arti beda. Jadi aneh saat ada seorang Jenderal polisi yang dengan modal baca terjemah Al Qur’an selama 2 tahun, berkesimpulan kebanyakan ulama di Indonesia adalah munafik semua. Begitu pula dengan seorang profesional di bidang Jasa Keuangan dan Perbankan yang menganggap para ulama NU sebagai sesat. Padahal dia tidak bisa bahasa Arab. Modalnya cuma baca Al Qur’an dan Hadits terjemahan saja. Mereka akan seperti ini:

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)

“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: