Iklan

Perlukah Bermadzhab?

Tanpa Mazhab

Waktu kuliah di Muhammadiyyah, saya dulu diajarkan untuk apa belajar Islam melalui Mazhab? Untuk apa belajar Islam lewat sahabat? Mending belajar Islam langsung ke Nabi. Pintu ijtihad (untuk membuat mazhab baru) selalu terbuka.
Walhasil untuk tiap masalah dibanding2kanlah pendapat para Imam Mazhab tsb dgn Al Qur’an dan Hadits dan dicari mana yang “paling benar”.

Namun makin belajar saya makin paham. Bagaimana kita bisa belajar Islam ke Nabi jika kita tidak hidup di zaman Nabi? Bukankah Nabi sudah meninggal?

Hadits2 yang sampai pada kita pun bukan berasal langsung dari Nabi. Tapi lewat beberapa orang hingga sampai ke perawi hadits misalnya Imam Bukhari yang lahir tahun 196 H. Jika pun dapat, pemahaman kita belum tentu sama dgn pemahaman sahabat. Pemahaman Nabi. Yang paling dekat dengan pemahaman Nabi ya sahabat. Yang paling dekat dgn sahabat ya ulama tabi’in dan tabi’it tabi’in. Kita yang hidup di akhir zaman ini sudah bukan hidup di abad terbaik Islam.

Rasulullah SAW bersabda,
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).”

(HR. Bukhari no. 6429 dan Muslim no. 2533 hadits ini adalah Mutawatir)

“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
https://kabarislamia.com/2014/12/20/mengapa-harus-bermazhab/

Bagaimana dengan mengambil 1 dari 4 Mazhab sambil memilih pendapat yang paling kuat berdasarkan Al Qur’an dan Hadits tanpa menyalahkan pendapat mazhab lainnya untuk tiap masalah?

Jawab:
Belajar 1 Mazhab yg benar saja susah. Apalagi belajar 4 Mazhab serta Al Qur’an dan 500.000 hadits guna membanding2kan mazhab mana yang benar untuk tiap masalah. Berapa banyak sih dari kita yang punya kitab Al ‘Umm? Imam Mazhab itu jenius. Contoh Imam Syafi’ie hafal Al Qur’an umur 7 tahun dan hafal kitab hadits Al Muwaththo umur 10 tahun. Jadi sulit bagi kita yang Juz ‘Amma saja belum tentu hafal mempelajari 4 mazhab sambil menilai mazhab mana yang paling benar. Ini ibarat anak TK memilih2 profesor mana yang paling pintar di antara 4 profesor untuk tiap masalah. Mending pilih 1 dari 4 mazhab tsb, kemudian fokus mempelajarinya.

Iklan

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: