Iklan

Tabayyun: KH. Said Aqil Siradj Disidang Karena Isu Syi’ah

Cuma di zaman Tukang Fitnah saja seorang Ulama Besar, pemimpin para Ulama di Nahdlatul Ulama sampai disidang apakah beliau Syi’ah atau tidak.

Meski yang difitnah berkeras bukan Syi’ah, tapi si pemfitnah tetap kekeh dengan fitnahnya. Menurutnya paling itu taqiyyah, pura2, dsb.
Sungguh jauh dari Sunnah Nabi yang melarang Su’u Zhon, berburuk sangka, dan membaca hati.
Generasi muda NU

Tabayyun Tingkat Tinggi : Ketika KH. Said Aqil Siradj Disidang Karena Isu Syi’ah

Muslimedianews.com ~ Didalam kehidupan sering kali menghadapi ujian. Terkadang ujian berupa kabar burung maupun isu tentang pihak tertentu yang tersebar luas padahal isinya hanyalah ketidak jelasan. Terkait hal semacam ini, Islam sebenarnya telah mengajarkan kepada ummatnya untuk mencari kejelasan semaksimal mungkin, atau biasa dikenal dengan istilah tabayyun. Tabayyun merupakan bagian dari akhlak mulya didalam Islam guna memeriksa dengan teliti sebuah kabar yang belum jelas. Allah SWT didalam al-Qur’an berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلىَ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasiq dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al Hujurat : 6).
Tradisi “tabayyun tingkat tinggi” benar-benar dipraktekkan oleh kalangan ulama NU. Terbukti, salah satunya ketika tersebar isu bahwa Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siraj adalah orang Syi’ah, maka Forum Tabayyun dan Debat Terbuka digelar antara Forum Kiai Muda (FKM) Jawa Timur dan Prof. Dr. KH Said Aqil Siraj, MA di Pondok Pesantren Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo, pada tahun 2009 silam.
KH. Said Aqil Siraj disidang dalam sebuah forum yang disaksikan oleh para habaib dan 300-an Kyai. Forum tersebut seolah menjadi forum penumpahan uneg-uneg terhadap pemikiran Kiai Said yang selama ini dinilai banyak menyimpang dari arus besar pemikirian NU.
Forum tabayyun terbuka tersebut kemudian didokumentasikan dalam bentuk video dan dapat disaksikan oleh semua kalangan sehingga menjadi jelas dan transparan. Diantara kesimpulan dalam video ini, yang disampaikan oleh KH. Agoes Ali Masyhuri adalah bahwa Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA. bukan Syi’ah.
Berikut adalah video yang dimaksud :
Hadis riwayat Itban bin Malik ra.:
Dari Mahmud bin Rabi` ia berkata: Aku datang ke Madinah dan bertemu Itban. Dan aku berkata: Aku mendengar cerita tentang engkau. Itban berkata: Mataku terkena suatu penyakit. Lalu aku menyuruh orang menghadap Rasulullah saw. untuk mengatakan kepada beliau bahwa aku ingin engkau (Rasulullah saw.) datang dan mengerjakan salat di rumahku, sehingga aku dapat menjadikannya sebagai mushalla. Nabi pun datang bersama beberapa orang sahabat beliau. Beliau masuk dan mengerjakan salat di rumahku. Sementara itu para sahabat saling berbincang di antara mereka. Mereka umumnya sedang membicarakan Malik bin Dukhsyum (artinya, mereka membicarakan sikap orang-orang munafik yang buruk, di antaranya Malik). Mereka ingin Rasulullah saw. berdoa agar Malik mendapat celaka. Mereka ingin ia tertimpa malapetaka. Ketika Rasulullah saw. selesai salat, beliau bertanya: Bukankah ia bersaksi: Bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah? Para sahabat menjawab: Memang benar ia mengucapkan itu, tetapi itu tidak ada dalam hatinya. Rasulullah saw. bersabda: Seseorang yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, tidak akan masuk neraka atau dimakan api neraka. (Shahih Muslim No.48)
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a.: Rasulullah SAW. pernah mengirimkan kami dalam suatu pasukan (sariyyah); lalu pada pagi hari kami sampai ke Huruqat di suku Juhainah, di sana saya menjumpai seorang laki-laki, dia berkata, “La ilaha illallah – tiada tuhan selain Allah,” tetapi saya tetap menikamnya (dengan tombak), lalu saya merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Setelah sampai di Madinah, saya memberitahukan hal tersebut kepada Nabi SAW., lalu beliau bersabda, “Dia mengatakan, ‘La ilaha illallah’, kemudian kamu membunuhnya?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh dia mengatakannya hanya kerana takut pada senjata.” Beliau bersabda, “Tidakkah kamu belah dadanya, lalu kamu keluarkan hatinya supaya kamu mengetahui, apakah hatinya itu mengucapkan kalimat itu atau tidak?” Demikianlah, beliau berulang-ulang mengucapkan hal itu kepada saya sehingga saya menginginkan seandainya saya masuk Islam pada hari itu saja. Sa’ad berkata, “Demi Allah, saya tidak membunuh seorang Muslim sehingga dibunuhnya oleh Dzul Buthain, maksudnya Usamah.” Lalu ada orang laki-laki berkata, “Bukankah Allah SWT. telah berfirman, Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah (QS Al-Anfal (8): 39).” Lalu Sa’ad menjawabnya, “Kami sudah memerangi mereka supaya jangan ada fitnah, sedangkan kamu bersama kawan-kawanmu menginginkan berperang supaya ada fitnah.” (1: 67 – 68 – Sahih Muslim)
Kita ulangi perkataan Nabi di atas:
“Tidakkah kamu belah dadanya, lalu kamu keluarkan hatinya supaya kamu mengetahui, apakah hatinya itu mengucapkan kalimat itu atau tidak?”
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: