Iklan

Beda Islam yang Bermazhab dan Tidak Bermazhab

mazhab-vs-anti-mazhab

Inilah Beda Islam yang Bermazhab dan Tidak Bermazhab. Yang tidak bermazhab itu mencoba membaca Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman sendiri. Karena mereka tidak bermazhab, sanad mereka ke Nabi terputus.
Akhirnya meski mereka rajin membaca Al Qur’an dan Hadits, namun cuma di kerongkongan. Tidak paham dan tidak mengamalkannya.
Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)

سيخرج في آخر الزمان قوم أحدث الأسنان سفهاء الأحلام
“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur’an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)“Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.” (HR. Al-Hakim)Mereka selalu mengajak kita: “Kembali kepada Al Qur’an dan Hadits… Kembali kepada Al Qur’an dan Hadits…” Tapi mereka sendiri tidak mengamalkannya.

Berbagai ayat Al Qur’an dan Hadits mereka pakai, namun kesimpulan lain yang mereka dapat dan amalkan. Berbagai larangan Allah dalam Al Qur’an seperti Su’u Zhon (Buruk Sangka), Mengolok-olok sesama, Mengkafirkan sesama Muslim, dan membunuh sesama Muslim. Berbagai caci-maki terhadap sesama Muslim seperti Ahlul Bid’ah, Sesat, Kafir dan sebagainya terlontar dari mulut mereka.

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/01/19/ciri-khawarij-tak-mengamalkan-al-quran-dan-membunuh-muslim/

Hilangnya ilmu bukan karena ilmu itu dicabut oleh Allah. Bukan karena Kitab Al Qur’an dan Hadits menghilang dari peredaran. Tapi hilang dengan wafatnya para Ulama yang menguasai ilmu tersebut.

Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan. (Shahih Muslim No.4828)

Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggut tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak lagi tersisa seorang alim. Dengan demikian orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (Mutafaq’alaih)

Sehingga akhirnya orang-orang bodoh yang tidak faqih lah yang membaca kitab Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman yang keliru.

Rasulullah SAW bersabda,
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).”

dalam lafazh lain disebutkan bahwa,

“Sebaik-baik zaman adalah zamanku (zaman para sahabat), kemudian yang setelahnya (zaman tabi’in), kemudian yang setelahnya (zaman tabi’ut tabi’in).”
(HR. Bukhari no. 6429 dan Muslim no. 2533 hadits ini adalah Mutawatir)

Dari hadits di atas, jelas tersirat anjuran kita untuk berpegang pada para Imam Mazhab yang masih merupakan generasi terbaik dalam Islam. Saat itu Islam masih amat murni. Tidak seperti sekarang.

Dari artikel di bawah kita tahu bahwa Imam Malik adalah dari golongan Tabi’it Tabi’in yang menurut sabda Nabi adalah satu dari golongan yang terbaik. Guru-guru Imam Malik berasal dari Tabi’in (anak para sahabat Nabi) dan Tabi’it Tabi’in (cucu dari sahabat Nabi). Sementara Imam Bukhari mau pun ahli hadits lainnya seperti Muslim sudah bukan tergolong kelompok Tabi’it Tabi’in.

Bahkan para Ahli Hadits seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim mengikuti Mazhab Syafi’ie. Jika Imam Hadits seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim saja BERMAZHAB (SYAFI’IE), mengapa kita yang bukan Imam Hadits tidak mau bermazhab? Lucukan?

http://kabarislamia.blogspot.com/2012/12/berpegang-kepada-ulama-salaf-yang-asli.html

Peta Mazhab:

Sumber:
Iklan

7 Tanggapan

  1. terimksih ntuk tulisannya saya setuju dg tulisan ini, dan tersadar,, 🙂
    namun, saya agak bingung dg paragraf 2 terakhir, membandingkan imam maliki dan imam lain,,

    • Imam Malik sebagaimana Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’ie, dan Imam Ahmad bin Hanbal adalah IMAM MAZHAB. Imam yang menyusun Mazhab FIQIH. Beliau hidup di 3 generasi terbaik dalam Islam. Lahir tahun 93 H saat Islam masih murni.
      Ada pun Imam Bukhari (lahir tahun 196 H) dan Imam Muslim adalah IMAM HADITS yang dalam Fiqih mengikuti mazhab Imam Syafi’ie. Mereka bukan Imam Mazhab.

  2. Gan, infografik yang paling atas itu kekecilan. Ane ga bisa lihat tulisannya. Ada yang lebih besarkah? Terimakasih

  3. Gambarnya sudah dikoreksi.

  4. terimaksih untuk tulisannya , saya setuju dengan tulisan ini 🙂

  5. AWW. Lihat paragraf 1 gan… Apakah kita harus condong ke salah satu mazhab ???. Bagaimana kalau kita tidak berpihak, tetapi perilaku kita tidak menyimpang dari mazhab-mazhab yang yang ada ??

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: