Iklan

Musuh Utama Arab Saudi/Wahabi adalah Syi’ah dan Muslim Lainnya. Bukan Yahudi dan Nasrani

Arab Saudi Pinjamkan Pangkalan Militer Kepada AS untuk Serang Iraq

Musuh utama Arab Saudi/Wahabi adalah Syi’ah, Sufi, HT, IM, Aswaja, dan Muslim lainnya.
Ada pun Yahudi laknatullah dan Nasrani (Israel dan AS) adalah sahabat Wahabi/Saudi.
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…” (Qur’an 5:82)

Hanya orang munafik yang dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang saat ini tengah memusuhi Islam dan membantai ummat Islam:

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [Al Maa-idah 52]

http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/11/27/me4t7i-inilah-upaya-terselubung-saudi-di-suriah

Read more http://media-islam.or.id/2012/09/18/yahudi-dan-nasrani-adalah-musuh-islam-yang-utama/

Ummat Islam itu berkasih sayang terhadap sesama, namun keras terhadap orang-orang kafir:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” [Al Fath 29]

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [Al Maa-idah 54]

Read more http://media-islam.or.id/2011/11/30/haram-berteman-dengan-kafir-harbi-dan-membunuh-sesama-muslim/

Kalau ummat Islam berkasih-sayang dengan sesama dan keras terhadap orang-orang kafir. Pemerintah Arab Saudi dan Ulama Wahabi yang digajinya justru sebaliknya. Berkasih-sayang dengan orang2 kafir seperti Yahudi dan Nasrani (AS, Inggris, Israel) dan keras terhadap sesama Muslim.

Saat pertama muncul pendiri Kerajaan Arab Saudi, Ibnu Su’ud bersama Muhammad bin Abdul Wahhab (Pendiri Wahabi) bekerjasama dengan Inggris (yang memberi senjata canggih) memerangi ummat Islam di Thaif, Mekkah, dan Madinah. Mereka perangi juga Muslim Turki dan Mesir.

Kemudian Pemerintah Arab Saudi juga mengundang pemerintah AS dan menyediakan pangkalan militer guna menyerang ummat Islam di Iraq. Meski katanya ada ulama Wahabi yang dipenjara, itu ulama yang tidak dikenal. Yang terkenal seperti Syaikh Utsaimin, Albani, dsb justru aman digaji oleh pemerintah Arab Saudi.

Setelah itu Ulama Wahabi menyerukan “Jihad” membunuh sesama Muslim di Libya yang saat itu dipimpin Khaddafi (Sunni mazhab Maliki). 50 ribu Muslim lebih tewas. Kemudian sekarang memfatwakan Jihad melawan pemerintah Syi’ah di Suriah Bashar Al Assad yang sebagaimana halnya Khaddafi merupakan musuh AS dan Israel. Saat ini 40 ribu Muslim tewas. Bukan cuma Syi’ah yang tewas. Tapi juga Muslim Sunni yang mereka adu-domba.

Buat pengikut Wahabi awam yang merasa “berjihad” saat memerangi/membunuh sesama Muslim hati-hatilah. Jangan sampai kalian malah masuk neraka:

Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw menjawab, “Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari)

Larangan membunuh orang kafir yang telah mengucapkan: Laa ilaaha illallah

Hadis riwayat Miqdad bin Aswad ra., ia berkata:
Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bertemu dengan seorang kafir, lalu ia menyerangku. Dia penggal salah satu tanganku dengan pedang, hingga terputus. Kemudian ia berlindung dariku pada sebuah pohon, seraya berkata: Aku menyerahkan diri kepada Allah (masuk Islam). Bolehkah aku membunuhnya setelah ia mengucapkan itu? Rasulullah saw. menjawab: Jangan engkau bunuh ia. Aku memprotes: Wahai Rasulullah, tapi ia telah memotong tanganku. Dia mengucapkan itu sesudah memotong tanganku. Bolehkah aku membunuhnya? Rasulullah saw. tetap menjawab: Tidak, engkau tidak boleh membunuhnya. Jika engkau membunuhnya, maka engkau seperti ia sebelum engkau membunuhnya, dan engkau seperti ia sebelum ia mengucapkan kalimat yang ia katakan. (Shahih Muslim No.139)

Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:
Rasulullah saw. mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menjumpai seorang kafir. Dia mengucapkan: Laa ilaaha illallah, tetapi aku tetap menikamnya. Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku, maka aku menuturkannya kepada Nabi saw. Rasulullah saw. bertanya: Apakah ia mengucapkan: Laa ilaaha illallah dan engkau tetap membunuhnya? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang. Rasulullah saw. bersabda: Apakah engkau sudah membelah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak? Beliau terus mengulangi perkataan itu kepadaku, hingga aku berkhayal kalau saja aku baru masuk Islam pada hari itu. Saad berkata: Demi Allah, aku tidak membunuh seorang muslim, hingga dibunuh Dzul Buthain, Usamah. Seseorang berkata: Bukankah Allah telah berfirman: Dan perangilah mereka, agar tidak ada fitnah dan agar agama itu semata-mata untuk Allah. Saad berkata: Kami telah berperang, agar tidak ada fitnah. Sedangkan engkau dan pengikut-pengikutmu ingin berperang, agar timbul fitnah. (Shahih Muslim No.140)

Dari Usamah bin Zaid ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. mengirim kita ke daerah Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kita berpagi-pagi menduduki tempat air mereka. Saya dan seorang lagi dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelaki dari golongan mereka -musuh-. Setelah kita dekat padanya, ia lalu mengucapkan: La ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar itu menahan diri daripadanya -tidak menyakiti sama sekali-, sedang saya lalu menusuknya dengan tombakku sehingga saya membunuhnya. Setelah kita datang -di Madinah-, peristiwa itu sampai kepada Nabi s.a.w., kemudian beliau bertanya padaku: “Hai Usamah, adakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan La ilaha illallah?” Saya berkata: “Ya Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya untuk mencari perlindungan diri saja -yakni mengatakan syahadat itu hanya untuk mencari selamat-, sedang hatinya tidak meyakinkan itu.” Beliau s.a.w. bersabda lagi: “Adakah ia engkau bunuh setelah mengucapkan La ilaha illallah?” Ucapan itu senantiasa diulang-ulangi oleh Nabi s.a.w., sehingga saya mengharap-harapkan, bahwa saya belum menjadi Islam sebelum hari itu -yakni bahwa saya mengharapkan menjadi orang Islam itu mulai hari itu saja-, supaya tidak ada dosa dalam diriku.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat lain disebutkan: Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bukankah ia telah mengucapkan La ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ia mengucapkan itu semata-mata karena takut senjata.” Beliau s.a.w. bersabda: “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya, sehingga engkau dapat mengetahui, apakah mengucapkan itu karena takut senjata ataukah tidak -yakni dengan keikhlasan-.” Beliau s.a.w. mengulang-ulangi ucapannya itu sehingga saya mengharap-harapkan bahwa saya masuk Islam mulai hari itu saja.

Dari Jundub bin Abdullah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengirimkan sepasukan dari kaum Muslimin kepada suatu golongan dari kaum musyrikin dan bahwa mereka itu telah bertemu -berhadap-hadapan. Kemudian ada seorang lelaki dari kaum musyrikin menghendaki menuju kepada seorang dari kaum Muslimin lalu ditujulah tempatnya lalu dibunuhnya. Lalu ada seorang dari kaum Muslimin menuju orang itu di waktu lengahnya. Kita semua memperbincangkan bahwa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Setelah orang Islam itu mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik tadi mengucapkan: “La ilaha illallah.” Tetapi ia terus dibunuh olehnya. Selanjutnya datanglah seorang pembawa berita gembira kepada Rasulullah s.a.w. -memberitahukan kemenangan-, beliau s.a.w. bertanya kepadanya -perihal jalannya peperangan- dan orang itu memberitahukannya, sehingga akhirnya orang itu memberitahukan pula perihal orang yang membunuh di atas, apa-apa yang dilakukan olehnya. Orang itu dipanggil oleh beliau s.a.w. dan menanyakan padanya, lalu sabdanya: “Mengapa engkau membunuh orang itu?” Orang tadi menjawab: “Ya Rasulullah, orang itu telah banyak menyakiti di kalangan kaum Muslimin dan telah membunuh si Fulan dan si Fulan.” Orang itu menyebutkan nama beberapa orang yang dibunuhnya. Ia melanjutkan: “Saya menyerangnya, tetapi setelah melihat pedang, ia mengucapkan: “La ilaha illallah.” Rasulullah s.a.w. bertanya: “Apakah ia sampai kau bunuh?” Ia menjawab: “Ya.” Kemudian beliau bersabda: “Bagaimana yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?” Orang itu berkata: “Ya Rasulullah, mohonkanlah pengampunan -kepada Allah- untukku.” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bagaimana yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?” Beliau s.a.w. tidak menambahkan sabdanya lebih dari kata-kata: “Bagaimanakah yang hendak kau perbuat dengan La ilaha illallah, jikalau ia telah tiba pada hari kiamat?” (Riwayat Muslim)

Bukanlah orang Islam orang-orang yang membunuh sesama Muslim:

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Barang siapa menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami. (Shahih Muslim No.143)

Hadis riwayat Abu Musa ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda: Barang siapa menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami. (Shahih Muslim No.145)

Read more http://media-islam.or.id/2012/02/07/larangan-mencaci-dan-membunuh-sesama-muslim/

Inilah Upaya Terselubung Saudi di Suriah

Selasa, 27 November 2012, 12:42 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Arab Saudi mengumumkan pembentukan lembaga Amar Makruf Nahi Munkar di kota Aleppo Suriah dan mendirikan cabang Wahabi di kota ini.

Lembaga Amar Makruf Nahi Munkar Aleppo adalah institusi Saudi yang dikenal dengan lembaga pelaksana agama dan mayoritas anggotanya terdiri dari orang-orang ekstrim yang dikenal dengan nama Muthawi, demikian dilaporkan Fars News Selasa (27/11).

Dua hari setelah didirikan, lembaga tersebut langsung mengeluarkan fatwa melarang perempuan mengemudi. Terkait fatwa ini, kelompok pemberontak Suriah, Free Syrian Army (FSA) menegaskan bahwa pelanggar fatwa itu harus dihukum dan dianggap sebagai teroris.

Sheikh Ahmad Abdul Latif Abdullah, salah seorang ulama dan mubaligh Suriah mengatakan, fatwa ini aneh bagi masyarakat Suriah mengingat warga negara ini tidak mengenal interpretasi ekstrim dari prinsip agama seperti yang terjadi di Saudi.

Ia menambahkan, hal ini membuktikan dengan jelas intervensi Saudi dalam krisis Suriah dan menunjukan upaya untuk mengubah Aleppo mejadi kawasan Salafi ekstrim guna mencegah terbentuknya Muqawama di kawasan, bahkan mereka mengkafirkan setiap pihak yang mendukung Muqawama dan perjuangan melawan rezim Zionis Israel.

Sheikh Abdullah yang juga anggota pakar hukum agama Damaskus mengkritik keras Wahabi dan mengatakan, Wahabi dengan kedok agama berusaha memposisikan dirinya sebagai wakil Islam yang sebenarnya, hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi di Suriah.

Wahabi di Saudi, masih kata Sheikh Abdullah, tidak sedang melaksanakan hukum-hukum fikih Islam, sebab para fuqaha tidak mempunyai argumentasi syariah yang melarang perempuan mengemudi. Pendekatan Saudi ini dan pendekatan-pendekatan Wahabi lainnya hanya khusus Al Saud dan tidak ada hubungannya dengan Islam, tetapi penafsiran salah tentang Islam.

Menurut Sheikh Abdullah, pembentukan Wahabi di Suriah yang diprakarsai oleh Wahabi Saudi, FSA dan front An-Nusra yang berafiliasi dengan al-Qaeda sebagai upaya untuk menyerang rakyat negara ini.

Lebih lanjut ulama Suriah ini memperingatkan langkah-langkah Wahabi Saudi dan menegaskan bahwa langkah untuk mengalihkan pandangan masyarakat Suriah merupakan upaya yang sangat berbahaya, sebab dengan mengeluarkan fatwa-fatwa aneh, mereka ingin menyulut ketegangan di antara masyarakat dan memanfaatkannya untuk merealisasikan langkah-langkah anti-Islamnya.

http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/11/27/me4t7i-inilah-upaya-terselubung-saudi-di-suriah#comment-form

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: