Iklan

Muslim yang Baik Jelas Identitasnya

Saat ini ada debat/kontroversi agama salah satu istri Capres. Yang lain mengatakan Katolik, yang lain menyatakan bahwa si X Muslim tapi memang tidak menonjolkan ke-Islamannya. Ini menandakan ketidak-jelasan ke-Islaman seseorang.

Dalam Islam, kita memang tidak boleh riya atau pamer. Meski demikian, jika kita mengamalkan ajaran Islam secara benar, meski kita tidak pamer, orang akan tahu bahwa kita adalah Muslim. Jika ada orang yang tidak percaya dengan ke-Islaman kita, niscaya ada banyak orang yang membela kita.

Coba lihat perintah jilbab di bawah agar perempuan Muslim “dikenal” dan tidak diganggu:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al Ahzab:59]

Jika setiap wanita Muslim taat perintah di atas dan memakai jilbab, niscaya tidak ada yang meragukan ke-Islamannya.

Untuk masuk Islam saja kita harus bersaksi “Tidak ada Tuhan selain Allah dan mengaku Nabi Muhammad utusan Allah.” Pada zaman Nabi dan sahabat, begitu juga oleh para mualaf saat ini, hal itu dilakukan di depan para saksi sehingga orang tahu ke-Islamannya.

Setiap pria Muslim pasti melakukan shalat Jum’at, jadi meski tidak pamer, dia akan terlihat ke-Islamannya di situ. Tapi kalau tidak pernah shalat/tidak pernah shalat Jum’at, ya wajar jika orang meragukan ke-Islamannya. Apalagi shalat itu adalah pembeda orang Islam dengan orang kafir.

Para wanita Muslim juga ketika Idul Fitri dan Idul Adha disunnahkan untuk shalat berjama’ah di lapangan. Jadi ada banyak saksi bahwa dia adalah Muslim. Kalau tidak pernah melakukan itu, ya tidak ada orang yang tahu kalau dia Muslim.

Islam juga mengajarkan kita bahwa menuntut ilmu, terutama agama itu wajib. Artinya kita harus mengaji/berguru kepada ulama. Jika ini kita lakukan dan ada orang yang menyatakan kita bukan Muslim, niscaya ulama yang jadi guru kita akan membantahnya. Tapi kalau kita tidak mengaji, maka tidak ada yang menjamin kita.

Pada saat kita mengerjakan Umrah/Haji niscaya orang akan tahu meski kita tidak pamer. Teman kerja atau tetangga kita mungkin heran, lho kok kita tidak kelihatan selama seminggu/3 minggu lebih? Mereka tentu tahu kalau kita mengerjakan Umrah/Haji.

Jadi jika seseorang itu konsekwen mengamalkan/mengerjakan ajaran Islam, niscaya tidak ada yang meragukan ke-Islamannya. Jika pun ada yang mencoba memfitnah, itu langsung teredam seketika.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: